Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Batik Printing

>> Thursday, June 11, 2009


Batik print merupakan salah satu jenis batik yang baru muncul. Tidak diketahui pasti kapan mulai dikenal, tetapi kini menjadi produksi batik dengan jumlah paling banyak jika dibanding batik cap apalagi batik tulis.

Teknik pembuatan batik print relatif sama dengan produksi sablon, yaitu menggunakan klise(kassa) untuk mencetak motif batik di atas kain. proses pewarnaannya sama dengan proses pembuatan tekstil biasa yaitu dengan menggunakan pasta yang telah dicampur pewarna sesuai keinginan, kemudian diprintkan sesuai motif yang telah dibuat. Jenis batik ini dapat diproduksi dalam jumlah besar karena tidak melalui proses penempelan lilin dan pencelupan seperti batik pada umumnya, hanya saja motif yang dibuat adalah motif batik. oleh karena itu batik print merupakan salah satu jenis batik yang fenomenal, kemunculannya dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik karena dianggap merusak tatanan dalam seni batik, sehingga mereka lebih suka menyebutnya kain bermotif batik.

Secara kasat mata kita dapat membedakan batik print dan batik tulis/cap dengan melihat permukaan di balik kain, biasanya kain batik print warnanya tidak meresap ke seluruh serat kain, dan hanya menempel pada permukaan kain, sehingga di balik kain masih terlihat sedikit berwarna putih.

Belakangan muncul perkembangan baru pada batik print, dengan adanya metode print malam.Metode ini dapat dikatakan perpaduan antara sablon dan batik. pada print malam, materi yang di printkan pada kain adalah malam (lilin) dan bukan pasta seperti batik print konvensional. setelah malam menempel, kemudian kain tersebut melalui proses pencelupan seperti pembuatan batik pada umumnya.



Batik Canting Cap

Batik di Indonesia memang selalu mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Pada awalnya hanya terdapat batik tulis yang dikerjakan oleh para pengrajin wanita menggunakan canting. Sekitar pertengahan abad ke-19, “canting cap” (biasanya disebut hanya“cap” saja) mulai dikembangkan. Teknik ini merupakan teknik batik asli yang menggunakan bahan baku lilin dan pewarnaan yang meresap diseluruh lapisan kain sehingga warna tidak cepat pudar atau luntur, sedangkan teknik sablon tidak menggunakan bahan baku lilin hanya pewarnaan saja yang ditonjolkan sedangkan warna tidak meresap ke seluruh lapisan hanya dipermukaan kain saja dan kecenderungan warna dapat cepat pudar atau luntur. Dapat dibedakan antara batik tulis, canting cap dengan sablon, jika sablon warna batik hanya dipermukaan saja sedangkan warna dibelakangnya tidak sama terkesan polos, hal inilah karena warna hanya menempel dikain saja tidak meresap diseluruh lapisan kain.

Canting cap merupakan sebuah alat berbentuk semacam stempel besar yang telah digambar pola batik. Pada umumnya pola pada canting cap ini dibentuk dari bahan dasar tembaga, tetapi ada pula yang dikombinasikan dengan besi. Dari jenis produksi batik cap ini, pembatik bisa menghemat tenaga, dan tak perlu menggambar pola atau desain di atas kain.

Batik cap juga mengalami pekembangan, dengan dikenalnya cap kayu. Cap yang terbuat dari kayu ini lebih ekonomis dan lebih mudah pembuatannnya. Pola pada kayu diukir dan dibentuk seperti stempel sama halnya dengan cap tembaga. Batik menggunakan cap kayu ini dapat dibedakan dari cap tembaga karena kayu tidak menghantarkan panas sebaik tembaga sehingga malam (lilin) yang menempel pada kayu lebih tipis, dan hasil pengecapannya yang terbentukpun memiliki kekhasan tersendiri, biasanya terdapat sedikit warna yang meresap pada batik karena lilin yang menempel terlalu tipis, sehingga terlihat gradasi warna pada pola antara pinggir motif dan tengahnya.

Read more...

Sejarah Batik



Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya "wax-resist dyeing".

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.





sumber : id.wikipedia.org

Read more...

Tips dan Trik Merawat Batik




Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar busana atau kain batik Anda tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.


2. Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.


3. Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.


4. Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.


5. Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.


6. Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.

Read more...

Museum Tekstil

museum-tekstilMuseum yang terletak di Jl. K.S. Tubun No. 4 dan dibangun pada abad 19 ini semula merupakan rumah tinggal bangsawan Perancis. Setelah beberapa kali berpindah kepemilikan dan fungsinya, pada tahun 1975 diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta yang selanjutnya dijadikan Museum Tekstil. Peresmian penggunaannya sebagai Museum Tekstil dilakukan oleh almarhumah Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976.

Museum Tekstil mengetengahkan koleksi kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain kain batik, ikat dan pelangi. Jenis kain tradisional ini yang paling menonjol dan merupakan cara-cara penciptaan pola ragam hias kain.

Adapun sablon, lukisan tangan dan prada merupakan teknik-teknik pencetakan. Betapa benyaknya jenis motif tradisional yang masih dapat digunakan dewasa ini. Beratus-ratus tahun sudah motif-motif tradisional ini mengalami perkembangan. Untuk mengenalinya dapat disaksikan pada Museum Tekstil.

Pada bagian lain Museum ini menampilkan pula peralatan tradisional yang erat kaitannya dengan produk-produk kain seperti alat tenun dan batik dari beberapa daerah di Indonesia.

Waktu Buka:
Museum buka Selasa - Minggu dari pukul 09.00 - 15.00 WIB.
Hari Senin / Besar tutup

Tiket Masuk
(Perda 3 / 1999)

Perorangan
Dewasa Rp. 2.000,-
Mahasiswa Rp. 1.000,-
Anak - anak/Pelajar Rp. 600,-

Rombongan
(Minimal 20 orang)
Dewasa Rp. 1.500,-
Mahasiswa Rp. 750,-

Read more...

Batik Pekalongan, dari Pasar, Akademi, sampai Museum

dahulu, Kota Pekalongan di Jawa Tengah dikenal sebagai Kota Batik. Batik di kota ini diproduksi ketika masih sebagai kerajinan tangan yang dilakukan secara perorangan di rumah-rumah penduduk, hingga seperti sekarang ini ketika diproduksi secara massal dengan mesin. Tak heran bila sasanti (semboyan kota) seperti yang dituangkan dalam Perda Kota Pekalongan No 5 Tahun 1992 antara lain berbunyi, “Pekalongan Kota Batik mewujudkan tatanan masyarakat dan kota serta lingkungan yang Bersih, Aman, Tertib, Indah dan Komunikatif (Batik).”

Memang bagi banyak orang awam soal batik selalu berpandangan, Pekalongan adalah produsen batik dengan kualitas dan harga yang rendah. Sedangkan batik kualitas tinggi dengan harga mahal, diproduksi di Solo. Itu jelas tidak betul. Coba ditelusuri, batik yang diproduksi di luar Pekalongan, pasti pekerja utamanya adalah orang Pekalongan. Bahkan tak sedikit ahli batik yang yang pernah belajar membatik di Pekalongan. “Semua itu asalnya dari Pekalongan,” kata Wali Kota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad dalam wawancaranya dengan Pembaruan di Pekalongan, baru-baru ini.

Di Pekalongan bahkan ada Akademi Batik. Toko yang menjual bahan baku dan alat-alat produksi batik, baik dalam bentuk eceran maupun partai besar, juga tersedia. Catatan lain, dari 270.000 jiwa penduduk Kota Pekalongan, sekitar 43.000 orang bekerja dalam industri batik. Bila pekerja tersebut menghidupi lima orang, berarti sekitar 200.000 orang yang hidup dari industri batik.

Sayangnya industri batik di Pekalongan sedang kekurangan modal untuk membeli bahan baku, untuk produksi dan memperluas pasar. Di Pekalongan memang ada 7 koperasi batik, namun sebagian besar tidak aktif lagi. Bahkan ada yang menjual atau menyewakan aset yang berupa lahan dan gedung yang dimiliki. Koperasi Pengusaha Batik Setono (KPBS) yang berdiri tahun 1941, mengalami hal yang serupa dengan koperasi batik lainnya. Dari 291 pengusaha anggotanya, hanya 20 persen saja yang aktif memproduksi batik. Lainnya berusaha di bidang lain.

Tetapi mereka ini masih memiliki saham di KPBS, kata Ketua KPBS Mirza Luthfi Mufti, sehingga mereka masih mendapatkan SHU (sisa hasil usaha). Apalagi KPBS memiliki lahan seluas 5 hektare yang terletak di kawasan Setono di jalan raya Pantura di kota Pekalongan. Sebagian di antaranya menjadi pasar grosir batik dengan 260 kios. Semuanya sudah terisi dengan omset sekitar Rp 1 miliar perhari di hari-hari biasa. Kalau hari libur, apalagi di saat Lebaran, omzetnya naik tajam karena banyaknya pemudik dan wisatawan belanja di sini.

Pasar grosir inilah yang menjadi pusat belanja kota Pekalongan. Di sini ada ATM, ada pula bank. Hanya saja di Pekalongan kekurangan hotel. Kami tawarkan kepada investor untuk mengembangkan lahan KPBS menjadi hotel bintang tiga. Nantinya di Pasar Grosir ini juga dikembangkan menjadi pusat oleh-oleh khas Pekalongan,” ujar Mirza Luthfi Mufti.

Di tempat itu, direncanakan akan dibangun pula rumah makan yang menghidangkan makanan khas Pekalongan seperti nasi megono, taoto (soto dengan bumbu taoco), garang asem, minuman jahe alang-alang, dan gulai kambing kacang hijau. Rencana itu didasarkan kenyataan bahwa sampai saat ini di Pekalongan tidak ada rumah makan yang cukup memadai yang menyajikan hidangan tersebut.

Program IDP

Beruntung bagi Pekalongan, karena tahun ini dijadikan satu dari lima kota di Indonesia dalam program Indonesia Design Power (IDP). Program ini dimulai dari Pekalongan yang menampilkan unggulannya, tak lain dan tak bukan dari batik. Pertama, kegiatan city branding pada Maret 2007. Di sini akan dibangun citra bahwa semua batik itu asal-usulnya dari Pekalongan. Produksi batik Pekalongan dipasarkan ke mana-mana. Bila ada batik yang diproduksi di daerah lain, bisa dipastikan pekerjanya berasal dari Pekalongan atau pernah belajar dari perajin Pekalongan.

Kedua, penyelenggaraan Festival Batik pada Juni 2007. Di sini akan diadakan pertemuan masyarakat batik. Bahkan akan didatangkan desainer dari Eropa untuk menarik perhatian mereka pada batik-batik daerah itu. Dalam acara ini juga akan dilibatkan pengusaha dan pedagang kecil batik. Di sini akan dipromosikan bahwa di Pekalongan, masyarakat bisa membeli batik secara eceran di pasar grosir. Ketiga, kegiatan Trade Fair yang direncanakan juga diadakan pada Juni 2007 untuk lebih mempromosikan batik Pekalongan. Keempat, upaya untuk membuktikan bahwa batik ini merupakan barang seni dan komoditas perdagangan. Kelima, pembuatan master plan untuk menata perekonomian di kawasan Pekalongan sehingga objek wisata dan potensi investasi ini lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Memang, sebenarnya tidak sulit untuk datang ke Pekalongan.Bisa ditempuh melalui jalur darat Pantura Selain menggunakan bus atau kendaraan pribadi, wisatawan dapat pula menggunakan kereta api (KA). Semua KA eksekutif baik dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung, pasti berhenti di Stasiun Pekalongan. Hanya saja bila menggunakan pesawat terbang, harus turun di Bandara Achmad Yani Semarang, dilanjutkan jalan darat 90 km ke arah barat.

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP