Negeri Sejuta Motif Batik
>> Thursday, June 11, 2009
Ada sesuatu yang sangat fenomenal dalam sejarah Pekalongan empat tahun terakhir ini, yakni berdirinya Museum Batik. Keberadaannya mampu menjadikan titik tolak kebangkitan Kota Pekalongan. Karena keberadaan Museum tidak hanya sekedar untuk menyimpan berbagai benda-benda bersejarah saja. Namun dari museum mampu dirunut sebuah perjalanan kehidupan serta budaya masa lalu. Dari sini kita bisa melihat sekaligus belajar mengerti tentang tapak sejarah batik tidak hanya skala lokal setetapi batik secara nasional.
Pilihan untuk mendirikan Museum Batik berskala nasional di Kota Pekalongan diakui atau tidak menjadikan Kota Pekalongan mempunyai nilai tambah yang sangat signifikan. Karena mampu mendongkrak integritas Pekalongan sebagai ‘Negeri Sejuta Batik’, yang tidak hanya dikenal ditingkat local namun internasional.
Ini semua tidak terlepas dari upaya Pemerintah kota Pekalongan yang dipimpin Walikota dr.HM.Basyir Ahmad dan Wakilnya H.Abu Almafachir yang memperoleh dukungan secara total dari berbagai pihak seperti Yayasan Batik Indonesia, Yayasan Kadin hingga masyarakat Pekalongan yang tinggal di Jakarta yang dikenal dengan OPEK (Orang Pekalongan) disamping para kuraktor batik.
Pendirian Museum Batik oleh Kota Pekalongan tidak terlepas dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, memajukan kesenian budaya sekaligus mendukung tumbuhnya industry usaha perbatikan. Sehingga fungsi museum tidak sekedar memamerkan dan menyimpan batik namun juga sebagai jendela ekonomi disamping sebagai data center dan pusat kajian pustaka maupun koleksi.
Gedung Museum Batik seluas 600 m? sebagai pilihan sangat tepat karena peninggalan VOC Belanda yang dikenal sebagai City Hall yang berusia tua (1906) dalam waktu singkat Museum Batik terwujud. Dan tidak kepalang tanggung pada tanggal 12 Juli 2006 peresmian dilakukan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Any Yudhoyono bersama rombongan Menteri Kabinet Indosat Bersatu serta para tamu Negara sahabat pecinta maupun pemerhati batik.
Untuk mengisi museum, dengan suka rela para kolektor berpartisipasi menyumbangkan koleksi batik-batik yang berusia tua dan langka, seperti batik milik Ibu Minarsih Soedarpo, Ghea Pangabean, Grazeila S. Rapjanidewi, Nian Djoemono, Syarifah Nawawi, Grizelda A. Loemono, RA Soejatoen Damais, Roos Roesmali, Tumbu Ramelan, Maria Moerad serta dari Pekalongan Fatchiyah A. Kadir, Afif Sahur, Dudung Alisyahbana, Romi Oktabirawa, Fathurachman (Tukman), Fredi Wijaya serta beberapa tokoh batik lainya. Dalam waktu sekejap ada sekitar 500 koleksi batik berbagai corak berhasil dihimpun. Mulai batik corak keratin Solo-Jogja sampai batik corak kawasan Selatan Jawa seperti batik Banyumas, Kebumen, Purworejo maupun batik corak pesisir Utara, seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem, hingga Madura.
Dari titik awal inilah Kota Pekalongan mulai mengembalikan jati dirinya menunjukkan kelasnya sebagai Kota Batik. Maka apa yang dilantunkan kelompok music Slank sangatlah tidak mengada ada. Kota batik bukan Solo bukan Jogja tapi Pekalongan.
sumber: warta kota pekalongan


0 comments:
Post a Comment